Senin, 27 Desember 2010

PALEONTOLOGI

DIO YUDHA PRATAMA

270110090110

 

Paleontologi 

Tulisan ini adalah penjelasa singkat tentang apa yang dimaksud dengan paleontologi. Secara singkat paleontologi adalah ilmu yang mempelajari ekologi purba, evolusi dan keberadaan kita sebagai manusia di muka bumi, melalui fosil. Paleontologi menggabungkan berbagai pengetahuan dari bidang ilmu lain, seperti biologi, geologi, ekologi, antropologi, arkeologi, bahkan ilmu komputer untuk memahami proses-proses yang mengakibatkan asal-muasal dan hancurnya berbagai organisme sejak munculnya kehidupan. Ilmu ini memiliki beberapa cabang sebagai berikut.
  • Micropaleontology (paleontologi mikro): kajian yang secara umum mempelajari fosil mikroskopik (fosil berukuran sangat kecil yang hanya dapat dilihat melalui mikroskop).
  • Paleobotani: mempelajari fosil tumbuhan, termasu mempelajari fosil ganggang dan fosil jamur di samping fosil tumbuhan darat.
  • Palinologi: mempelajari serbuk sari dan spora, baik yang masih hidup maupun yang sudah memfosil, yang dihasilkan oleh tumbuhan darat dan protista.
  • Paleontologi invertebrata: mempelajari fosil binatang invertebrata seperti moluska, echinodermata, dan lain-lain.
  • Paleontologi vertebrata: mempelajari fosil binatang vertebrata, mulai ikan primitif hingga mamalia.
  • Paleontologi manusia (Paleoantropologi): mempelajari fosil manusia prasejarah dan fosil proto-manusia.
  • Taphonomy: mempelajari proses pembusukan, terawetkannya dan terbentuknya fosil secara umum.
  • Ichnology: mempelajari fosll jejak.
  • Paleoekologi: mempelajari iklim dan ekologi purba, yang tercermin dalam fosil maupun yang lainnya.
Di Indonesia belum ada museum khusus yang menampung koleksi paleontologis, padahal negara kita sangat kaya akan tinggalan paleontologis yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. Di negara-negara maju biasanya lazim dijumpai museum-museum seperti ini di universitas terkemuka. Universitas California di Amerika Serikat adalah salah satunya.

Fosil


Apakah fosil itu?


Fosil berasal dari bahasa Latin fossilis. Kata fossilis merujuk pada setiap benda yang didapat dari menggali tanah. Kata fosil mulai dipakai dalam geologi pada abad keenambelas. Pada masa itu yang disebut fosil meliputi mineral, artefak, dan benda aneh lainnya yang didapat dari dalam tanah. Saat ini pengertian fosil dibatasi pada sisa-sisa mahluk hidup (hewan, tumbuhan, manusia) yang telah terawetkan di dalam batuan. Ada dua macam fosil, yaitu fosil tubuh dan fosil jejak. Pada fosil tubuh yang terawetkan adalah tubuh organisma secara keseluruhan dan mengalami proses fosilisasi; sedangkan pada fosil jejak yang terawetkan adalah bekas-bekas suatu organisma seperti jejak kaki, jejak liang, atau jejak tumbuhan.


Mengapa kita mempelajari fosil?


Sudah sejak zaman kuno manusia mengenal dan mengoleksi fosil. Ketika itu fosil dianggap berharga karena dianggap mampu menyembuhkan orang sakit, mengusir arwah jahat, bahkan meminta jodoh. Tidak ada, atau setidaknya belum ada, yang mengetahui bahwa fosil adalah sisa mahluk hidup. Pada zaman modern barulah diketahui bahwa fosil merupakan sisa mahluk hidup dan keberadaannya dapat dimanfaatkan untuk ilmu pengetahuan. Dari fosil kita dapat membuat perkiraan tentang kehidupan masa lampau (lingkungan purba), atau mengetahui bentuk-bentuk awal suatu mahluk hidup (evolusi). Fosil juga dapat memberikan informasi tentang pola makan (paleodiet), dan lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di bagian tentang kegunaan fosil.


Apa kegunaan fosil?


Ada beberapa kegunaan fosil, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun kepentingan ekonomis. Dari segi ilmu pengetahuan fosil mengandung berbagai informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui bentuk-bentuk kehidupan di masa lampau dan lingkungan hidup tempat mahluk-mahluk purba ini pernah hidup. Salah satu bidang ilmu pengetahuan yang ada kaitannya dengan fosil adalah taksonomi. Taksonomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan kekerabatan antarmahluk hidup baik yang telah punah maupun yang masih ada


1. dari segi taksonomi : fosil mengandung informasi morfologis sehingga ilmuwan dapat mengenal dan memberinya nama serta mengtahui hubungannya dengan organisma lain berdasarkan morfologi tersebut.


2. dari segi etiologi (ilmu tentang perilaku) : fosil memberi informasi tentng cara hidup suatu organisma yang dulu pernah hidup dan sekarang telah punah.


3. dari segi evolusi : fosil memberi informasi tentang proses evolusi yang terjadi di Bumi.


4. dari segi ekologi : fosil memberi informasi dan pemahaman tentang sifat dan perkembangan ekosistem dan tentang interaksi antara hewan dan tumbuhan dengan lingkungannya di masa purba.


5. dari segi lingkungan : organisma tertentu distribusi dan keragamannya terbatas pada lingkungan tertentu (disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan). Keadaan lingkungan purba seperti salinitas, suhu, dan tingkat oksigen dapat diketahui melalui perbandingan antara organisma hidup dengan fosil.


6. segi kimiawi : susunan biokomia tubuh organisma yang satu berbeda dengan organisma lain dan melalui studi isotopik dapat diketahui suhu dan salinitas purba tempat organisma tersebut pernah hidup.


7. segi sedimentologis : fosil biasanya ditemukan berjenjang sesuai dengan lapisan pengendapan. Berdasarkan hal ini dapat diketahui proses sedimentasi yang telah terjadi di masa purba.


8. segi diagenetik : fosil memberi informasi tentang proses yang terjadi dalam sekuen sedimen yang menyertai kematian, proses terkuburnya organisma sampai pada saat penemuan organisma yang telah memfosil tersebut.


9. segi stratigrafi : fosil dapat memandu kolom stratigrafi yang ditentukan oleh batas waktu (time boundaries).


10. segi susunan pengendapan (way up) : urut-urutan sedimen dikenali melalui fosil yang ada di tiap lapisan umur sedimen. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahwa pengendapan terjadi dari bawah ke atas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar