Minggu, 19 Desember 2010

POKOK BAHASAN PALEONTOLOGI DALAM ILMU GEOLOGI

Omri Fuji Panotari
 270110090114

Dalam cabang ilmu geologi, umumnya paleontologi yg di bahas kelompok invertebrata, yaitu :

1. Phylum Protozoa
2. Phylum Porifera
3. Phylum Brachiopoda

4. Phylum Coelenterata
5. Phylum Mollusca
6. Phylum Arthropoda
7. Phylum Echinodermata

Cara Hidup Makhluk hidup

1. Mutualisme
    Hubungan dengan makhluk lain saling menguntungkan

2. Parasitisme
    Hubungan dengan makhluk lain dimana yang satu untung dan yang lain rugi 

Tempat Hidup / Lingkungan :

1. Benthos > Di dasar laut
- Secyl = menempel pada benda mati & tidak berpindah- pindah
- Vagyl = di dasar laut & berpindah-pindah


2. Pelagos > Melayang-layang
- Planktonik = bergerak pasif mengikuti arus
- Nektonik = bergerak aktif di permukaan 

Lingkungan Hidup

1. Laut
- Litoral            = 0 –5m
- Batyal            =  200 – 2000 m
- Epineritik      =  5 – 50 m
- Abyssal         =  2000 – 5000 m
- Neritik           =  50 – 200 m
- Hadal             =  > 5000 m

2. Darat (Sungai, Danau, dll)

3. Transisi (Air Payau) 


FOSIL

Pengertian fosil 
Fosil = Jejak / sisa kehidupan baik langsung / tidak langsung terawetkan dalam lapisan kulit bumi, terjadi secara alami dan mempunyai umur geologi ( > 500.000 tahun )
Fosil dalam “Paleontologi” terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :  

-Fosil Makro/besar (Macrofossil)
    > dapat dilihat dengan mata biasa (megaskopis)
- Fosil Mikro/kecil (Microfossil)
   > hanya dapat dilihat dengan bantuan alat mikroskop (mikroskopis) 


Dilihat dari asal kata fosil :

FOSIL berasal dari bahasa latin, yaitu Fossilis, yang berarti menggali dan/ sesuatu yang diambil dari dalam tanah/batuan .


Fosilisasi :
 
Semua proses yang melibatkan penimbunan hewan atau tumbuhan dalam sedimen, yang terakumulasi & mengalami pengawetan seluruh maupun sebagian tubuhnya serta pada jejak- jejaknya 


Jenis Fosil 

1. Organisme itu sendiri
Tipe pertama ini adalah binatangnya itu sendiri yang terawetkan/tersimpan. Dapat beruba tulangnya, daun- nya, cangkangnya, dan hampir semua yang tersimpan ini adalah bagian dari tubuhnya yang “keras”.
     Dapat juga berupa binatangnya yang secara lengkap (utuh) tersipan. misalnya Fosil Mammoth yang terawetkan karena es, ataupun serangga yang terjebak dalam amber (getah tumbuhan).
     Petrified wood atau fosil kayu dan juga mammoths yang terbekukan, and juga mungkin anda pernah lihat dalam filem berupa binatang serangga yang tersimpan dalam amber atau getah tumbuhan. Semua ini biasa saja berupa asli binatang yang tersimpan
 


2. Sisa-sisa aktifitasnya
Secara mudah pembentukan fosil ini dapat melalui beberapa jalan, antara lain seperti yang terlihat dibawah ini. Fosil sisa aktifitasnya sering juga disebut dengan Trace Fosil (Fosil jejak), karena yang terlihat hanyalah
sisa-sisa aktifitasnya. Jadi ada kemungkinan fosil itu bukan bagian dari tubuh binatang atau tumbuhan itu sendiri.Penyimpanan atau pengawetan fosil cangkang ini dapat berupa cetakan. Namun cetakan tersebut dapat pula berupa cetakan bagian dalam (internal mould) dicirikan bentuk permukaan yang halus, atau external mould dengan ciri permukaan yang kasar. Keduanya bukan binatangnya yang tersiman, tetapi hanyalah cetakan dari binatang atau organisme itu 




Sistem Pengawetan Fosil 


Gambar diatas menunjukkan bagaimana sebuah cangkang dapat terekam. Pada gambar paling atas menunjukkan sebuah cangkangdan potongan dari sebuah cangkang doble (bivalve) dipotong melintang



Syarat - Syarat Terbentuknya Fosil

1. Mempunyai bagian yang keras
2. Segera terhindar dari proses-proses kimia (oksidasi & reduksi)
3. Tidak menjadi mangsa binatang lain
4. Terendapkan pada batuan yang berbutir halus>>> agar tidak larut
5. Terawetkan dalam batuan sedimen
6. Terawetkan dalam waktu geologi (minimal 500.000 tahun) 


Proses Yang Mempengaruhi Terbentuknya Fosil

1. Histometabasis
Penggantian sebagian tubuh fosil tumbuhan dengan pengisian mineral lain (cth : silika) dimana fosil tersebut diendapkan
2. Permineralisasi
     Histometabasis pada binatang
3. Rekristalisasi
Berubahnya seluruh/sebagian tubuh fosil akibat P & T yang tinggi, sehingga molekul-molekul dari tubuh fosil (non-kristalin) akan mengikat agregat tubuh fosil itu sendiri menjadi kristalin
4. Replacement/Mineralisasi/Petrifikasi
     Penggantian seluruh bagian fosil dengan mineral lain
5. Dehydrasi/Leaching/Pelarutan
6. Mold/Depression
    Fosil berongga dan terisi mineral lempung
7. Trail & Track
-Trail      = cetakan/jejak-jejak kehidupan binatang purba yang menimbulkan kenampakan yang lebih halus
-Track    = sama dengan trail, namun ukurannya lebih besar
-Burrow = lubang-lubang tempat tinggal yang ditinggalkan binatang purba


Ketedapatan Fosil

1.      Batuan Beku
Pada batuan beku tidak akan dijumpai fosil karena batuan beku terbentuk dr hasil pembekuan magma, shg tdk mungkin tdp fosil

2.      Batuan Sedimen
Batuan sedimen sangat baik untuk pengendapan organisme, shg akan banyak terkandung fosil di dalam batuan sedimen tsb

3.      Batuan Metamorf
Pada batuan metamorf, msh mungkin dijumpai, namun sedikit sekali & umumnya fosil tsb telah hancur bahkan telah hilang oleh proses metamorfisme


Fosil Tidak Akan Terbentuk Pada Batuan Beku 



Lingkungan Sedimentasi



Dari batuan sedimen, hewan-hewan dapat tersimpan dengan baik Terutama pada batuan sedimen yang berbutir halus 


Kemungkinan kecil fosil terdapat pada batuan metamorf 





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar